Sebagian besar umat Islam di dunia menyambut Ramadhan dengan suka cita dan menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat Tarawih. Namun berbeda dengan masyarakat muslimm China di Xinjiang. Pemerintah China melarang muslim Uighur melaksanakan ibadah Shalat Tarawih secara berjamaah, karena khawatir akan menimbulkan ketegangan dan merusak keharmonisan hubungan sosial.
Larangan itu disampaikan Pemerintah China sejak Jum’at (5/9) lalu. Dalam pernyataannya seperti dikutip situs pemerintah China, Pemerintahan China beralasan pelarangan itu untuk mencegah para pemeluk agama tertentu mengadakan perkumpulan dalam skala besar yang berpotensi memanaskan keadaan, kata pemerintah China seperti dilansir oleh AFP baru-baru ini.
Di beberapa daerah di Xinjiang, Pemerintah lokal juga melarang wanita muslimah memakai cadar dan para laki-laki muslim menggenakan kain sorban.
Memasang iklan atau pengumuman-pengumuman mengenai bulan suci ramadhan di tempat-tempat publik juga ikut dilarang di beberapa daerah di Xinjiang, termasuk mengedarkan rekaman video, menyiarkan rekaman Al Quran dengan loudspeker dan penggunaan beduk atau drum khusus dalam festival menyambut Ramadhan juga ikut dilarang.
Menanggapi perlakukan pemerintah China tersebut, Jubir Konggres Uighur Internasional Dilxat Raxit, mengatakan bahwa larangan-larangan yang diterapkan pemerintah China terhadap muslim Uighur hanya akan meningkatkan tensi ketegangan pada kaum muslim di Xinjiang.
"Ini pelanggaran serius yang menodai hak asasi manusia untuk memiliki suatu keyakinan tertentu," kata Raxit di pengasingannya di Jerman. Di sisi lain, menurutt Raxit, pelarangann itu hanya akan berbuah semakin memperuncing konflik di Xinjiang.
Muslim Uighur adalah kelompok minoritas muslim di wilayah Xinjiang China bagian Barat Daya. Jumlah mereka sekitar 8 juta jiwa. Sejak tahun 1955, Xinjiang memiliki otonomiii sendiri, namun kawasan ini terus menerus menjadi target pengawasan aparat keamanan China.
Bagi pemerintah China, kawasan ini memiliki posisi yang sangat strategis karena lokasinya yang terletak dekat dengan Asia Tengah, kawasan yang menjadi sumber cadangan gas dan minyak. [syarif/afp/iol/www.suara-islam.com]
Minggu, 07 September 2008
Diposting oleh
azzahracomunity
di
18.45
0
komentar
Selama bulan ramadhan penjualan Al Quran meningkat dratis. Al Quran menjadi buku terlaris ke-8 yang paling banyak terjual di Perancis. “Kami menjual antara 10 hingga 15 mushaf Al Quran setiap harinya di bulan Ramadhan,” kata Ali Al-Maghori, seorang warga Perancis keturunan Arab yang memiliki toko buku di Paris.
Selama bulan puasa, umat Islam di Perancis didorong untuk lebih dekat dengan Allah Swt. Salah satunya dengan cara memperbanyak membaca Al Quran. Sehingga penjualan Al Quran meningkat dratis di hampir seluruh tokoh buku Islamis di Perancis.
Menurut Ali Al-Maghori, Al Quran yang paling diminati adalah jenis Al Quran saku, karena mudah dibawa kemana-kemana dan ukurannya tidak terlalu besar.
Berdasarkan suvey Majalah Livre Hebdo, yang khusus merangking penjualan buku-buku di pasar yang paling diminati, penjualan Mushaf Al Quran menempati urutan ke-8 sebagai buku terlaris selama bulan Ramadhan.
Selain Al Quran, buku bacaan Islami tentang tata cara sholat dan berpuasa juga menjadi buku-buku yang paling dicari oleh kaum muslimin di Perancis, khususnya di Paris, Bellevile dan Paribas.
Diposting oleh
azzahracomunity
di
18.34
0
komentar
Selasa, 02 September 2008
Kesepakatan Para Ulama Menyikapi FPI DAN AKKBB

1. MENGHARAPKAN KEPADA PEMERINTAH UNTUK BERSIKAP TEGAS TERHADAP PENISTAAN AGAMA YANG DILAKUKAN OLEH KELOMPOK AHMADIYAH DAN MEMBUBARKAN KELOMPOK AHMADIYAH
2. MENGAJAK KEPADA KAUM MUSLIMIN INDONESIA UNTUK MENJAGA PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA DENGAN MENINGKATAN UKHWAH ISLAMIYAH DAN UKHWAH WATHONIYAH
3. KAMI PARA ULAMA DAN HABAIB MENDUKUNG PEMERINTAH UNTUK MEMBERI PENJELASAN KEPADA UMAT APABILA AHMADIYAH DIBUBARKAN UNTUK TIDAK BERSIKAP ANARKIS
4. MENGAJAK KEPADA UMAT DAN BANGSA INDONESIA UNTUK MENJAGA KEDAMAIAN SEPERTI YANG DICONTOHKAN OLEH ROSULULLAH SAW
5. BERHARAP KEPADA SELURUH PIHAK UNTUK MENAHAN DIRI DARI MENCACI MAKI DAN SIKAP PROVOKATIF TERHADAP KAUM MUSLIMIN.
6. MENGAJAK KEPADA UMAT ISLAM UNTUK MERAPATKAN BARISAN AGAR TIDAK MUDAH DIADUDOMBA
7. HATI-HATI TERHADAP BAHAYA LATIN KOMUNIS
8. HATI-HATI TERHADAP ZIONIS YAHUDI
9. MENGHARAPKAN AGAR UMAT NON MUSLIM TIDAK MENCAMPURI URUSAN UMAT ISLAM
10. MENGHARAPKAN MEDIA BERSIKAP ADIL DALAM HAL PEMBERITAAN MENGENAI PERSOALAN ANTARA FPI DAN AKKBB
Ulama yang Hadir & Menandatangani Kesepakatan ini :
1. Ustad Jefri Al Bukhori
2. Ustad Aswan Faisal
3. Ustadzah Dra. Hj. Tatu Mulyana
4. Hj. Pipik Dian Irawati
5. KH. Ahya Ansori
6. KH. Abu Deedad (WK. Komnas PBP Majelis Ulama Indonesia)
7. KH. Mujib Khudori
8. Aa Reza (Majelis Dzikir Baitul Ikhlas)
9. Drs. Muslih (Pengasuh Ponpes Baitul Jurad)
10. Ustad. Cilik Guntur Bumi (Ponpes Silaturahmi)
11. Ustad Subkhi Al Bughury
12. Ustad Koko Liem (DAI TPI)
13. Ustad Zaky (DAI TPI)
14. Ustad Iwan Zawani (Majelis Az Zikra)
15. Habib Abdurrahman
16. Habib Ahmad Hamid Aidid
17. Ustad Ahmad
18. Ustad Amiruddin
19. Ustad Syarif Hidayat
20. Ustad Munif
21. Drs. H. Royhan Sabuki (Ponpes Madinatul Ilmi - Ciputat)
22. Rosa Fariza Maharani (Jamaah Al Mawadiyah)
23. Hj. Elis Royhan
24. Hj. Nawwal Ismail Modal
www.ujecentre.com
Diposting oleh
azzahracomunity
di
18.25
0
komentar
Muslim Palestina Menjalani Puasa Dalam Suasana Blokade Ekonomi

Umat Islam di Palestina menyambut kedatangan Ramadhan dengan berbagai keluhan dan dalam kondisi semakin memburuknya taraf kehidupan masyarakat. Di Gaza, masyarakat muslim kebanyakan mengeluhkan kelangkaan kebutuhan bahan-bahan pokok karena isolasi Israel sejak tahun lalu, disamping kenaikan harga-harga barang akibat kurangnya suplai barang.
Sementara di Tepi Barat, warga mengeluhkan sikap aparat keamanan Pemerintah PLO yang membatasi aktivitas muslimin menjalankan kegiatan ibadah di bulan Ramadhan, melalui penutupan sejumlah masjid dan pelarangan melakukan kegiatan itikaf.
Iman Ummu Ali (27 tahun), muslimah asal Tepi Barat menceritakan kondisi Tepi Barat bagi keamanan kaum perempuan di saat bulan Ramadhan. Iman mengaku terpaksa harus sholat tarawih di rumahnya, karena pihak aparat keamanan di Tepi Barat menutup ruang sholat khusus bagi wanita di sejumlah masjid dekat rumahnya. Menurut Iman, penutupan itu karena masjid itu dituduh milik kelompok Hamas.
Iman juga mengatakan perempuan yang nekat melakukan shalat Tarawih di malam hari kadang berbuntut penangkapan tidak hanya yang bersangkutan tapi juga keluarganya.
Menurut pengakuan Iman, aparat keamanan di bawah PLO secara sengaja sering menyebarkan berita-berita fitnah dan desas-desus kepada keluarga mertua, untuk menurunkan citra seorang muslimah tertentu yang menjadi target aparat keamanan, umumnya mereka wanita-wanita yang dicurigai menjadi bagian dari kelompok Hamas.
Berbeda dengan para kaum wanita yang mengkhawatirkan penangkapan, Muhammad Abdul Fattah (33 tahun, berprofesi sebagai guru) mengeluhkan sulitnya memperoleh surat-surat kelakukan baik dari pihak lembaga keamanan. Hal ini tidak saja dialami dirinya, tapi siapa saja yang dicurigai sebagai bagian dari aktivitas Hamas
Menurut Muhammad Abdul Fattah, Tepi Barat telah berubah menjadi mirip negara Polisi. Seluruh aktivitas warga harus sepengetahuan aparat keamanan, khususnya dinas intelijennya. Bahkan, untuk membuka daurah menghapal Al Quran saja harus seijin dari intelijen.
Mengenai kondisi ekonomi di Tepi Barat, Hibbah Muhammad mengeluhkan adanya kenaikan harga-harga kebutuhan barang pokok yang rata-rata mencapai 50 %. Menurut Hibbah, dirinya bersama dengan warga Tepi Barat lainnya telah berulang kali meminta kenaikan gaji kepada Pemerintah Palestina di Ramallah, tapi selalu ditolaknya dengan alasan anggaran yang tidak mencukupi.
Hibbah sangat heran terhadap perilaku pemerintah Ramallah yang menutup sejumlah LSM dan ormas Islam yang menyalurkan dana bantuan kepada para warga. Alasan pemerintah PLO, masalah pemberian bantuan kepada warga adalah tanggung jawab pemerintah bukan ormas atau yayasan tertentu. Hibbah menilai, sikap pemerintah Palestina itu dilatarbelakangi persaingan politik antara Hamas dan Fatah.
Jika pendistribusian bantuan kepada warga ditangani oleh Pemerintah PLO biasanya hanya dibagikan kepada orang-orang yang pro pemerintah saja, sementara warga muslim di Tepi barat yang menjadi anggota Hamas biasanya tidak mendapatkan jatah bantuannya.
Di Gaza
Kondisi yang sama juga terjadi di Gaza. Mayoritas penduduk Gaza mengeluhkan kelangkaan barang-barang kebutuhan pokok dan tingginya , akibat blockade Israel..
Abu Ibrahim, salah satu pegawai di Gaza, kepada Ikhwanonline mengatakan meskipun telah dibantu oleh Pemerintah namun jumlah bantuan dan gaji itu sangat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, karena tingginya harga-harga kebutuhan bahan pokok di Gaza akibat blokade ekonomi Israel.
Sebagai contoh, lanjut Ibrahim, sepotong keju kuning harganya saat ini mencapai 150 Sikel (sekitar 40 USD), padahal tahun lalu hanya 100 Sikel. Abu Ibrahim meminta agar blokade ekonomi Israel itu segera dibuka.
Sementara itu, Amal Abdurrahman (45 tahun) menyatakan akibat blokade ekonomi Israel seluruh suplai bahan kebutuhan pangan berasal dari Israel dan itu pun jumlahnya sangat sedikit.
“Israel mengingingkan penduduk Gaza tidak hidup tapi juga tidak mati,” kata amal kepada Ikhwanonline.
Selain masalah pangan, penduduk Gaza juga menghadapi kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan gas, listrik dan bensin karena sedikitnya suplai dari Israel. [syarif/ikw/www.suara-islam.com]
Diposting oleh
azzahracomunity
di
18.23
0
komentar
Jumat, 18 Juli 2008
Kisah Pemadat Bule Masuk Islam
imageSeorang pemuda Kanada lahir dari sepasang suami isteri Kanada yang peduli dengan agama. Ketika menginjak usia sebelas tahun ia serius membandingkan berbagai agama yang ada karena ia merasa tidak puas dengan agama asalnya, yaitu Kristen. Semua agama ia pertanyakan, kecuali Islam. Ia samasekali tidak tertarik mempelajari Islam karena opininya begitudalam terformat bahwa Islam merupakan agama kegelapan. Menurutnya Islam merupakan agama para teroris sebagaimana yang selama ini dikesankan oleh media Barat pada umumnya.
Namun sayang, belum sampai ke penghujung perjalanan ruhaninya, keburu sebuah tragedi menimpa keluarganya. Ayah dan ibunya bercerai. Ayahnya pergi meninggalkan anak-isterinya. Sedangkan ibunya terperosok ke dalam lembah hitam narkoba. Dalam keadaan seperti itu si anak muda inipun terbawa menjadi seorang pemadat.
Awalnya ia hanya menjadi seorang pengguna. Namun dengan berjalannya waktu ia naik pangkat dan akhirnya menjadi pengedar di samping pengguna. Dan tidak lama kemudian ia bahkan menjadi salah seorang pimpinan jaringan narkoba papan atas di Kanada.
Saat ia mencapai karir tertingginya di dunia gelap jaringan narkoba, iapun tertangkap dan akhinya berurusan dengan polisi. Ia sempat masuk penjara selama empat tahun.
Setelah menjalani masa tahanannya, begitu keluar iapun segera mengunjungi salah satu pangkalan favorit tempat para pemadat biasa berkumpul. Maka mulailah iapun menikmati suasana ”fly” dengan narkobanya. Saat ia sedang sakau itulah ia duduk di samping seorang pemuda keturunan Maroko yang dilihatnya agak berbeda saat melinting rokoknya. Iapun bertanya: ”Anda berasal dari mana? Kok anda melinting rokok berbeda dengan kebanyakan orang di sini?” Pemuda itu menjawab: ”Inilah kebiasaan orang di negeri saya ketika melinting rokok.”
”Anda berasal dari mana?”
”Saya berasal dari Afrika Utara, dari Maroko. Itulah negeri nenek-moyang saya.”
”Kalau begitu anda seorang muslim ya?”
” Iya benar, saya seorang muslim dari Maroko.”
Maka sambil keduanya tenggelam dalam narkobanya masing-masing, mulailah keduanya terlibat dalam sebuah dialog panjang-lebar seputar agama Islam. Si pemuda Kanada menanyakan berbagai hal mengenai agama Islam, sementara si pemuda keturunan Maroko menjawab sebatas pengetahuannya. Ternyata dialog mereka berlangsung terus sampai keduanya kehabisan narkoba. Tanpa disadari keduanya telah ngobrol seputar Islam selama tidak kurang dua jam di tempat mangkalnya para pemadat.
imageTapi si pemuda Kanada masih belum puas. Masih banyak pertanyaan yang mengganjal. Sedangkan si pemuda Maroko sudah kehabisan pengetahuan yang ia miliki seputar Islam. Tiba-tiba datang pemuda ketiga yang ternyata berasal dari keturunan Aljazair ikut terlibat dalam perbincangan seputar Islam itu. Maka perbincangan seputar Islam dilanjutkan dengan narasumbernya beralih kepada si pemuda Aljazair. Namun pada saat-saat tertentu kadang terjadi perselisihan pendapat antara si pemuda Aljazair dengan si pemuda Maroko. Ini wajar. Karena dalam sejarah Islam bahkan perpedaan pendapat antara para ulama saja sering dijumpai, apalagi antara sesama orang awam ilmu agama. Sesi kedua ”seminar” berakhir dua jam berikutnya.
Ternyata bermula dari perbincangan soal Islam di pangkalan para pemadat, si pemuda Kanada alhasil memperoleh hidayah iman dan Islam. Iapun mengikrarkan dua kalimat syahadat.
Setelah beberapa tahun semenjak ia masuk Islam; dalam suatu kesempatan Muslim Youth Gathering si pemuda Kanada tadi menceritakan riwayat hidupnya kepada sesama peserta. Termasuk ia menceritakan soal pengalaman awalnya mendapat hidayah di pangkalan pemadat. Sewaktu ia sedang menceritakan pengalamannya salah seorang peserta berkomentar: ”Jelek sekali pemuda muslim Maroko dan Aljazair itu berada di tempat para pemadat yang terkutuk!”
Maka dengan suara tinggi si pemuda Kanada tersebut berkata: ”Saya tidak tahu di mana keberadaan dan bagaimana nasib kedua pemuda yang ngobrol dengan saya di pangkalan pemadat itu. Tapi suatu hal yang perlu Anda ketahui bahwa jika saat ini saya beramal sholeh atau beribadah; entah itu sholat atau puasa atau yang lainnya, maka kedua pemuda Maroko dan Aljazair tadi mendapat bagian dari pahala kebaikan yang saya kerjakan. Sebab merekalah yang telah berjasa pertama kali memberi hidayah iman dan Islam kepada saya.”
Demikianlah, betapa besarnya ganjaran berda’wah mengajak manusia ke jalan hidayah iman dan Islam.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengajak kepada petunjuk maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang mengikutinya. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang yang mengikutinya.” (HR Muslim 13/164)
Itulah di antara rahasia mengapa dalam ajaran Islam kita diperintahkan untuk mendoakan sholawat dan salam bagi Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam sebab beliau adalah orang paling pertama yang berjasa menyebarkan hidayah iman-Islam ke tengah ummat manusia. Allahumma sholli wa sallim wa baarik ’ala Muhammadin wa ’ala aalihi wa asha
Diposting oleh
azzahracomunity
di
21.29
0
komentar
Liburan Anak-anak ke Polda Metrojaya
oleh Dzikrullah *
Hari-hari ini, sebagian besar anak kita yang duduk di bangku SD sampai SMA memulai liburan kenaikan kelas dan lulusan sekolah. Sebelum berangkat ke Bandung, Pulau Seribu, Jogja atau ke Bukittinggi untuk bersenang-senang, ada baiknya Anda ajak dulu anak-anak kita ke Gedung Tahanan Narkoba Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya. Letaknya di bagian belakang komplek Polda Metrojaya, persis di dekat Masjid Al-Kautsar yang indah dan megah.
Untuk apa?. Untuk berkenalan dengan para pengedar dan pengguna narkotika dan obat-obat terlarang? Bukan!!.
Tetapi untuk berkenalan dan bersalaman dengan ulama dan penjuang Islam yang sedang dizalimi, dipenjara oleh penguasa negeri ini, Habib Rizieq Shihab, ulama pemimpin gerakan 'amar ma'ruf nahiy munkar Front Pembela Islam, dan Munarman, Panglima Komando Laskar Islam serta kawan-kawannya.
Kedua tokoh ini dipenjara karena dituduh mendorong anak buahnya yang sedang berdemonstrasi di depan Istana Presiden menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak, untuk menyerang kelompok demonstran lain Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang hendak menyatakan pembelaannya terhadap Ahmadiyah, gerakan yang ajaran sesatnya diaku-akui Islam.
Mengunjungi Habib Rizieq dan Munarman adalah kesempatan yang baik untuk memperkenalkan anak-anak kita kepada kedua tokoh yang melawan kemunkaran dengan tangan ini.
Baik Habib Rizieq dan Munarman sama-sama bukan manusia sempurna. Banyak kekurangannya. Namun di tengah semakin suburnya penyakit al-Wahn (cinta dunia-benci mati) di kalangan tokoh Indonesia, kedua tokoh ini cukup menarik untuk dikenali lebih dekat.
Habib Rizieq Shihab adalah seorang kandidat doktor di Universiti Malaya, Kuala Lumpur. Tesis masternya yang dipuji oleh para guru besarnya itu berjudul “Pengaruh Pancasila terhadap Pelaksanaan Syariat Islam di Indonesia”.
Karena dianggap baik mutu riset dan penulisan tesisnya itu, para guru besar universitas tertua di Malaysia itu langsung mendukung Habib Rizieq meneruskan pendidikannya ke jenjang doktor.
Front Pembela Islam (FPI) yang beliau pimpin sejak tahun 1999 mulai dikenal masyarakat sejak mereka memberantas preman-preman yang menjadi centeng tempat-tempat maksiat di kawasan Jakarta Pusat dan Jakarta Barat.
Salah satu yang dilawannya adalah preman-preman Kristen asal Ambon berjumlah ratusan orang yang “dideportasi” pulang ke kampungnya. Mereka inilah yang kemudian mengobarkan pengusiran dan pembantaian Umat Islam di Ambon Idul Fitri tahun 1999.
Jama'ah FPI menandai keberadaannya di Jakarta sebagai kelompok yang melawan kemunkaran dengan tangan. Dalam praktiknya, FPI selalu memberikan peringatan kepada tempat-tempat maksiat agar menghentikan kegiatannya, terutama di bulan Ramadhan.
Biasanya mereka bergerak setelah peringatan mereka kepada tempat-tempat tersebut dan pemberitahuan mereka kepada pihak kepolisian diabaikan.
Inisiatif FPI tersebut sering disebut anarkisme. Namun, mereka yang menuding demikian belum ada yang benar-benar pernah menghitung betapa besar anarkisme yang diakibatkan tempat-tempat maksiat itu selama bertahun-tahun.
Waktu Tsunami menghancurkan Aceh, para da'i FPI telah mewakili umat Islam Indonesia untuk mengurus ribuan jenazah orang Aceh yang bergelimpangan dan sebagian besar telah membusuk .
Habib Rizieq sendiri turun tangan. Setiap pagi, setelah apel dan memberi nasihat di posko mereka di Taman Makam Pahlawan Banda Aceh, Habib memimpin anak buahnya berjalan kaki ke masjid di seberang posko untuk menunaikan shalat dua rakaat. Baru setelah itu mereka menyebar ke seluruh penjuru Banda Aceh untuk mengurus jenazah-jenazah, membungkusnya, menshalatkannya dan menguburkannya dengan penuh ketelatenan dan kesabaran.
Munarman dulunya dikenal sebagai aktivis HAM sampai ia menjadi Ketua Kontras dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Indonesia. Istri Munarman yang beberapa waktu lalu diwawancarai sebuah stasiun televisi mengatakan, “Sejak mengaji sungguh-sungguh, dia (Munarman) hidupnya lebih teratur dan semakin sayang kepada istri dan anak-anaknya.”
Tahun lalu, didukung oleh beberapa tokoh Indonesia, seperti Ustadz Abu Bakar Baasyir, Munarman membentuk dan memimpin Brigade Pemburu Koruptor (BPK).
Pemuda Palembang kelahiran 1968 itu secara terang-terangan menyebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai target buruannya, selain para bankir penerima dan pengemplang dana milik rakyat Indonesia lewat Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) seperti Liem Sioe Liong, Hendra Tjipta, dan lain-lain.
Illustrasi Museum "Nahi Mungkar"
Ajaklah anak-anak kita duduk bersama Habib Rizieq dan Munarman di gedung empat lantai itu Polda Metrojaya itu. Setiap hari, kedua tokoh itu menerima tamu hampir tanpa henti sejak jam 10 pagi sampai jam 3 sore.
Sebelum memasuki gedung, Anda akan diminta meninggalkan telefon genggam dan tanda identitas seperti KTP atau SIM di pintu depan yang dijaga dua orang petugas polisi yang ramah dan sopan. Tak usah khawatir. Titipkan saja. Allah yang menjaganya.
Tas dan barang bawaan juga akan dititipkan kepada seorang petugas yang duduk di bagian dalam gedung itu. Setelah tas diberi nama pemiliknya, Anda dan anak-anak Anda akan dipersilakan menemui Habib Rizieq di sebuah ruangan berukuran kira-kira 4x7 meter yang jendelanya sempit dan sengaja dipasang setinggi mungkin.
Di pintu ruangan itu tertera tulisan “ruang rapat”. Para tamu akan dipersilakan duduk lesehan di beberapa lembar tikar dan karpet sederhana. Foto Presiden SBY dan wakilnya Jusuf Kalla yang nampak tersenyum digantung didinding dan di tengahnya ada gambar Garuda Pancasila akan menemani kunjungan Anda sampai pulang.
Jangan lupa bawa koran atau majalah yang bisa Anda gunakan menjadi kipas, karena ruangan tanpa pendingin udara dan kipas angin itu cukup membuat gerah karena panasnya. Tak usah bawa minum. Seorang santri FPI akan menyediakan segelas air minum kemasan untuk Anda dan anak-anak, lengkap dengan sedotan lancipnya.
Biarkan mata jiwa anak-anak Anda yang masih suci merekam wajah Habib Rizieq yang teduh dengan senyumnya yang hangat. Biarkan juga anak-anak Anda merekam suaranya yang ramah saat menanyakan kabar mereka. Biarkan juga mereka merekam suara Habieb Rizieq yang menggelegar saat berbicara tentang kezaliman. Bukan kezaliman atas dirinya, ia tak terlalu pusing. Tetapi kezaliman atas Islam dan umat Islam.
“Orang yang membela Ahmadiyah, yang ajaran utamanya meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, sama dengan mengatakan bahwan Muhammad Sallallaahu 'alayhi wa sallam adalah PENDUSTA! Karena beliau mewasiatkan kepada kita, “tidak ada nabi lagi sesudah aku”. Kalau karena melawan kemunkaran itu saya harus masuk penjara, ya sudah.. biarin..” kata Habib Rizieq.
Munarman akan Anda temui di lantai 3 gedung itu. Silakan minta tolong kepada petugas yang berjaga di lantai itu untuk memanggilkan beliau. Sel baja berwarna kecoklatan karena karat akan terbuka pelan saat pria langsing itu keluar dari dalamnya. Kemungkinan besar dia akan mengenakan baju koko berlengan pendek dan bersarung biru putih kotak-kotak. Yang pasti, kenal ataupun tidak Munarman dengan Anda dan anak-anak Anda, pengacara yang sering membeberkan nama-nama LSM penadah uang dari Amerika ini akan menerima Anda dengan senyum ramah.
Seterusnya, nikmati saja pembicaraan yang mengasyikkan dan penuh canda tawa.
Sebelum pulang, ajaklah Habib Rizieq dan Munarman mendoakan anak-anak Anda agar mereka tumbuh menjadi Muslim yang kuat dan pemberani seperti mereka.
Terutama agar mereka berani berpaling dari kenikmatan palsu dunia untuk berpegang teguh pada kebenaran Islam yang memang semakin berat ujiannya.
Jangan khawatir, para Nabi dan Rasul pendahulu kita sudah mengalami hal-hal yang jauh lebih berat dari siapapun di zaman kini. Kalau mau hidup nikmat, nanti di syurga. [www.hidayatullah.com]
dari ambil dari : www.swaramuslim.com Selanjutnya......
Diposting oleh
azzahracomunity
di
21.20
0
komentar
Jumat, 13 Juni 2008
‘Penyerangan’ FPI Vs ‘Provokasi’ AKKBB
1 Juni 2008 di kawasan Monas (Monumen Nasional) Jakarta telah menjadi saksi aksi yang disebut-sebut oleh media massa sebagai kekerasan massa. 'Penyerbuan' FPI (Front Pembela Islam) atas kelompok AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) bukan tanpa sebab. Menyimak berita di berbagai media massa baik di televisi, internet, dan koran ternyata aksi ini menurut saya boleh dibilang 'wajar' meski disesalkan berbagai kalangan Islam.
Bentuk provokasi yang dilakukan oleh AKKBB cukup radikal karena menyebut "mereka yang menginginkan pembubaran Ahmadiyah adalah yang akan mengganti NKRI dan Pancasila." Setidaknya, ungkapan ini pernah saya dapatkan dari Komando Laskar Umat Islam, Munarman, SH, melalui acara di sebuah stasiun televisi (kalo nggak salah RCTI dan TV-One). Setelah mencari-cari di internet pun, ternyata memang ada petisi dari AKKBB yang diiklankan di media massa yang ditanda-tangani oleh beberapa tokoh. Yang, jika mencermati nama-namanya, para penandatangan yang diklaim mendukung AKKBB adalah orang-orang yang tentu saja sepemahaman dan sepemikiran dengan visi dan misi AKKBB.
So, sangat wajar mereka ada di sana karena selama ini pun nama-nama itu umumnya berada di garis 'pembela' sekularisme, pluralisme, dan tentu saja menginginkan liberalisme. Meski sebenarnya tidak liberal juga. Karena mereka masih merasa harus 'menyerang' orang yang berbeda pendapat dengannya. Atau.. setidaknya nama-nama ini meskipun tidak terang-terangan menyatakan pembelaan terhadap sekularisme, tapi terlihat dari cara pandang dan perasaannya (minimal mendukung petisi tsb.). Sebab, sudah sangat pasti bahwa apa yang dilakukan seseorang adalah sesuai dengan pemahamannya. Sederhana sekali bukan menilainya? Seharusnya semua orang tahu dalam menentukan penilainnya. Sebab, parameternya sangat mudah. Sehingga bisa dengan sangat gampang membagi kubu: mana yang salah dan mana yang benar menurut Islam. Oya, kebenaran itu tidak relatif. Tapi bisa dijangkau dengan akal. Logikanya begini: Saya bisa mengatakan dengan pasti ketika ditanya seseorang tentang jenis kelamin saya. Saya bisa menjangkau kebenaran itu. Bayangkan jika kebenaran relatif, mungkin ketika ditanya apa jenis kelamin, malah bingung: Masa' nanti bilang, "kadang laki kadang perempuan". Halah, ciloko!
Oke, ini opini saya, pendapat saya dalam masalah ini. Ada beberapa poin yang perlu dijelaskan berkaitan 'Insiden Monas' ini menurut pengetahuan dan analisis saya:
1. Kebenaran dengan kesalahan, kebaikan dan keburukan, hitam dan putih akan selalu berlawanan. Mungkin sebagian orang lebih memilih diksi "berpasangan". Tapi menurut saya, kebenaran pasti akan berhadapan dan selalu bertentangan dan menentang kesalahan. Begitupun sebaliknya. Itu sudah sunnatullah. Saya berani mengatakan bahwa mereka yang di AKKBB adalah salah. Sebabnya apa? Cara pandang. Saya gunakan standar Islam, karena sudah pasti kebenarannya. Sebabnya pula kebenaran hanya ada satu, tidak mungkin dua atau tiga. Dan kebenaran itu hanya ada pada Islam. Bukan yang lain. Kebenaran yang dimaksud dalam hal ini adalah akidah dan ideologi. Seluruh kaum muslimin wajib mengimani Allah Swt. sebagai penciptanya, dan Rasulullah Muhammad saw. sebagai utusan Allah Swt. Apa saja yang ditetapkan oleh Allah Swt. dan RasulNya, wajib ditaati dan tak boleh sama sekali ada pilihan lain. Allah Swt. berfirman (yang artinya): "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata." (QS al-Ahzab [33]: 36).
Menjadi sekular dan liberal dalam pemikiran maupun perbuatan yang menyebabkan dirinya terjerumus dalam cara pandang bukan Islam, bisa dipastikan sudah tersesat. Sekularisme jelas memisahkan antara agama dan kehidupan. Agama dan Tuhan hanya ada ketika seseorang berada di masjid atau tempat ibadah lain. Tapi Tuhan akan disingkirkan dalam aturan kehidupan. Maka, meski memiliki nama islami dan (suka) shalat, tapi ketika berpendapat dan berbuat malah menikam Islam, menohok Islam, dan menyerang Islam, ia sudah bisa dikatakan sekular; dan ini salah menurut Islam. Jelaslah, mereka yang menginginkan kebebasan bergama dan berkeyakinan adalah para pengusung propaganda liberalisme, padahal yang sedang diperjuangkannya, yakni pembelaannya terhadap Ahmadiyah adalah kesalahan. Sebab, Ahmadiyah dalam Islam sudah dianggap sebagai aliran sesat. Membela kesesatan tentu perbuatan yang salah menurut Islam. Lagipula, itu masalah internal kaum muslimin, mengapa turut campur? Wong, Gus Dur saja pernah marah kepada Muhaimin Iskandar, bahkan merasa harus menindak tegas karena kubu Muhaimin membawa-bawa atribut PKB. Lha, sekarang apa bedanya dengan Ahmadiyah? Untuk logika yang sama, Gus Dur sewajibanya juga melarang Ahmadiyah. Benar nggak sih? Kalo Ahmadiyah tidak membawa-bawa nama Islam, seperti agama lainnya, kaum muslimin tidak akan mengurus mereka dan mengingatkan mereka. Dibiarkan saja, yakni perlakuannya sama seperti kepada kaum Nasrani dan Yahudi dan pemeluk agama lain. Bahkan FPI yang menurut sebagian orang dianggap 'beringas' pun, saya tidak (belum) mendengar mereka merusak tempat ibadah agama lain. Jadi, menurut saya, yang terjadi kemarin itu adalah kebenaran vs kesalahan. Kaum muslimin yang benar-benar ingin selamat keislamannya harus menunjukkan dukungan dan sikapnya atas kebenaran Islam. Jangan meragukan apalagi tidak mempercayai Islam. Itu sebabnya, yang wajib dibela adalah kebenaran Islam. Bukan yang lain: bukan golongan atau seseorang. Tapi sekali lagi, yang wajib dibela dan diperjuangkan adalah kebenaran Islam.
1. Penyebutan kekerasan atau bukan kekerasan itu relatif. Tergantung sudut pandang. Benar. Menurut saya memang demikian. Artinya, tidak semua kekerasan itu salah, juga tidak semua kedamaian itu benar. Harus dilihat masalahnya terlebih dahulu. Apakah dalam peperangan kekerasan dianggap salah? Tidak selalu. Menurut Amerika, aksi mereka yang menyerang Afghanistan, itu benar. Karena merasa harus menumpas Al-Qaida yang menurutnya bersembunyi di sana setelah menuduh gerakan tersebut menghancurkan WTC pada tragedi 9/11. Tapi anehnya, begitu milisi Taliban atau rakyat Afghanistan melakukan perlawanan, dinilai oleh media mereka melakukan serangan dan kekerasan. Begitu pun ketika Israel menyerang rakyat Palestina dan menjajah negaranya, opini dunia umumnya yang terdengar nyaring tidaklah mengecam Israel, tapi menganggap aksi mereka sebagai upaya mempertahankan diri. Sebaliknya, ketika Hamas dan rakyat Palestina menyerang Israel, media massa menyebutkannya sebagai upaya pemberontakan dan penyerangan, tentu dengan kekerasan. Padahal, menurut rakyat Palestina, itulah bentuk perjuangan mereka melawan Israel. Sama halnya ketika rakyat Indonesia bangkit mengangkat senjata melawan penjajah Belanda, penjajah Belanda menyebut rakyat Indonesia yang berjuang melawan penjajahannya sebagai kaum ekstrimis alias pemberontak. Padahal, rakyat Indonesia yang melakukan perlawanan, dan tentu saja dengan kekerasan karena menggunakan senjata menyebutnya sebagai bagian dari perjuangan melawan penjajah. Jadi dengan demikian, kekerasan dan bukan kekerasan itu relatif. Tergantung sudut pandang. Maka, sebagai seorang muslim, sudut pandang yang wajib dijadikan ukuran hanyalah ajaran Islam. Bukan yang lain. Maka, untuk "Insiden Monas" itu, saya sendiri menilai itu 'kekerasan' yang sangat 'wajar'. Why? Seperti kata pepatah: "tak ada asap jika tak ada api". Artinya, suatu perbuatan pasti ada pemicunya. Akibat pasti didahului dengan sebab. 'Penyerangan' yang dilakukan massa FPI (karena setidaknya dari atribut yang dikenakan menunjukkan demikian) terhadap massa AKKBB karena berawal dari provokasi yang dilakukan massa AKKBB. Jadi, sangat wajar jika terjadi demikian.
1. Dalam ajaran Islam, dikenal tiga tahapan dalam melaksanakan nahyi munkar" (mencegah kemungkaran). Dakwah itu memang harus dilakukan demikian. Bukan hanya menyeru kebaikan. Tapi sekaligus mencegah kemunkaran. Risiko menyeru kebaikan seperti yang dilakukan banyak ulama "ngepop" saat ini tak terlalu besar. Bahkan sebaliknya mendapat sambutan hangat. Namun, jangan sampai kita lupa bahwa nahyi munkar juga wajib dilakukan. Soal risiko, memang lebih berat ketimbang amar ma'ruf. Dakwah akan kehilangan kemuliaannya manakala nahyi munkarnya dihilangkan. Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa melihat kemunkaran, hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaknya ia ubah dengan lisannya. Jika ia tidak mampu mengubah dengan lisannya, maka ubahlah dengan hati; dan ini adalah selemah-lemahnya iman." (HR Muslim)
Mengubah dengan "tangannya" bisa bermakna ia melakukannya secara fisik mencegah kemunkaran tsb., atau bisa juga sebagai penguasa dengan kebijakannya dan keputusannya. Memang benar, bahwa mengubah kemungkaran bisa dengan hati. Tapi itu selemah-lemahnya iman. Jika mampu melakukannya dengan "tangannya", kenapa tidak? Apalagi negara juga kedodoran dalam masalah hukum. Seringkali hukum bisa dibeli oleh mereka yang punya jabatan dan uang banyak. Sudah menjadi rahasia umum jika perjudian yang dilarang itu, baik oleh negara—yang katanya negara hukum seperti yang disebutkan Presiden SBY saat wawancara dengan para wartawan kemarin—maupun oleh agama, tetap saja aktivitas haram itu berlangsung asal ada setoran dari pemilik usaha kepada para bodyguard yang seringkali adalah para oknum dari aparat keamanan. Maka, sangat wajar dilakukan oleh massa, atau siapa pun ia, untuk mengambil tindakan "anarkis" merusak tempat perjudian dan tempat maksiat lainnya setelah aparat keamanan (termasuk pemerintah) yang diajak untuk menutup tempat tersebut tak mengamini seruannya.
1. Sepertinya ada upaya terselubung untuk membekukan FPI atau gerakan sejenis. Saya merasa ada tangan-tangan intelijen yang bermain dalam kasus ini. Teknik "pancing-jaring" yang pernah dilakukan oleh intelijen di masa Orba kembali diperlihatkan. Para intelijen pasti sudah studi dan mendalami berbagai karakter gerakan. Setidaknya ini saya dapatkan dari sebuah makalah presentasi yang 'lolos' ke tangan saya tentang aktivitas intelijen. Apalagi gerakan seperti FPI kelihatannya sangat mudah untuk 'disusupi" dan "dipanas-panasi". Maaf, saya tidak menuduh kaderisasi dan rekruitmen anggota di FPI sangat longgar. Tidak, saya hanya melihat bahwa sangat mungkin intelijen main di sana. Sebab, dengan karakter gerakan 'sevulgar' FPI, bisa menjadi alasan intelijen untuk memainkan perannya. Bukan tak mungkin massa yang berseberangan dengan FPI dalam visi dan misi, yakni AKKBB, sudah 'diinstruksikan' untuk memancing aksi dari kawan-kawan FPI. Meskipun siapa tahu yang 'disuruh' berkoar-koar malah tidak sadar sedang mengundang aksi. Maka, terjadilah insiden itu. Apalagi polisi yang berjaga sedikit jumlahnya. Ini sekadar analisis saja, sebab dalam memahami sebuah fakta harus menyeluruh dan menyertakan berbagai asumsi. Ini kemungkinan yang saya curigai. Jadi, mohon maaf jika analisis saya ini benar. Pesan atas komentar ini dari saya adalah: waspadalah terhadap segala upaya penyusupan para intelijen atau orang-orang yang membenci perjuangan kebenaran Islam ini. Rapikan shaf perjuangan kita. Barisan harus diperbaiki lagi dan percaya saja dengan pertolongan Allah. Jika pun FPI harus dibekukan, saya justru sangat yakin bahwa akidah dan ideologi yang tertanam di dada kaum muslimin yang ikhlas berjuang tak akan pernah berhenti berkobar dan kembali melakukan perjuangan. Saya sangat yakin akan hal itu. Penjara dan pembubaran bukanlah solusi mendasar yang dilakukan pemerintah, bahkan pembunuhan pun bukan solusi untuk menghentikan perjuangan tersebut, karena sebagaimana Khalid bin Walid ketika melancarkan psywar kepada Jenderal Rustum dari Romawi: "Aku akan kirimkan pasukan yang mencintai kematian, sebagaimana pasukan kalian yang mencintai hidup". Semoga seluruh kaum muslimin yang berjuang tetap istiqamah dalam membela kebenaran Islam. Jangan takut apalagi merasa rendah diri. Tunjukkan kemuliaan kita. Meski sebagian kalangan mengatakan bahwa citra Islam akan buruk setelah aksi ini, tapi menurut saya, hal itu tergantung siapa yang mengatakannya. Saya pun yakin, saat ini umat Islam bisa melihat fakta. Karena berita tidaklah hanya disetir dari satu tangan saja. Sekarang cukup banyak informasi yang menjadi pilihan untuk diambil dan diyakini kebenarannya.
1. "Insiden Monas" ini jangan membuat kaum muslimin terpecah kekuatannya. Satukan langkah untuk membela Islam dan menghancurkan kekufuran. Jika di Cirebon dan Yogyakarta kantor FPI dirusak massa, dan menurut berita ada dari kalangan santri yang melakukan aksi perusakan itu, sebaiknya tidak terjadi lagi. Kaum muslimin harus membela kebenaran Islam, bukan membela seseorang atau kelompok. Apalagi seseorang tersebut, meskipun dianggap tokoh Islam tapi kelakuannya sama sekali tidak mencerminkan seorang muslim karena malah mensyiarkan kekufuran (sekularisme, pluralisme, demokrasi, liberalisme dan sejenisnya). Padahal, kepribadian Islam seseorang itu hanya bisa dinilai dari pemikiran dan perasaannya yang sesuai dengan Islam. Cinta dan benci atas dasar ukuran ajaran Islam, berani dan takut atas ketetapan yang diwajibkan Islam. Maka, 'menghajar' sesama kaum muslimin yang berjuang untuk Islam, sama saja dengan menghalangi dakwah Islam. Yang wajib dilawan adalah kekufuran. Mereka yang menyebarkan faham liberalisme, sekularisme, pluralisme adalah 'perpanjangan tangan' dari musuh-musuh Islam. Alamatkanlah rasa marah dan benci kepada mereka, bukan kepada kaum muslimin yang berjuang membela kebenaran Islam. Memang, perjuangan secara fisik bukanlah tujuan utama, mungkin saja itu tujuan akhir. Setelah sebelumnya kita dialog, kita sebarkan pemahaman Islam baik secara lisan maupun tulisan. Jika mereka tidak sadar, bisa kita biarkan saja tak usah dipedulikan. Tapi, bagi teman-teman yang menginginkan cara secara fisik untuk 'melumat' mereka, silakan jika itu yang dianggap lebih baik. Saya tidak menganjurkan kekerasan, tapi kadang sikap "bebal" dan melawan Islam, harus dibungkam dengan tindakan fisik. Sekali-kali mungkin perlu. Karena yang terpenting kemuliaan Islam harus tetap terjaga dan selalu kita jaga. Hal itu sama seperti kita mengajarkan kebaikan kepada anak kita, tapi ternyata anak kita tidak mau melaksanakan shalat dan melawan kita, padahal ia sudah mulai memasuki usia baligh, maka memukul kaki anak kita demi menunjukkan ketegasan pelaksanaan hukum bukanlah kekerasan. Tapi bagian dari tanda cinta. Jika teman-teman FPI melakukan itu kepada para aktivis dan pendukung AKKBB, seharusnya disikapi dengan lapang dada sebagai bentuk peduli dan cinta. Sebab, jika tidak peduli dan tidak cinta, buat apa mengingatkan, buat apa memberi pelajaran. Justru inilah yang diajarakan dalam Islam, bahwa agama bukanlah semata masalah individu, tapi tanggung jawab masyarakat dan negara. Jadi harus saling mengingatkan jika ada yang keliru. Berbeda dengan demokrasi yang menganggap agama adalah urusan individu. Namun perlu dikritisi juga, jika memang demokrasi sepakat bahwa agama adalah urusan individu, maka pemeluknya TIDAK BOLEH mengajak orang lain untuk masuk ke dalam agama atau keyakinannya. Mungkinkah? Sangat tidak mungkin. Jika sudah mengajak orang lain, maka wilayahnya bukan lagi individu, tapi masyarakat dan negara—dan itu aturannya lain lagi. Maka, kaum muslimin keras terhadap Ahmadiyah karena ajaran ini sudah sesat. Harus diingatkan diselesaikan persoalannya. Maka, ketika AKKBB membela Ahmadiyah, wajar dong jika mengundang marah kaum muslimin, khususnya teman-teman dari FPI. Betul tidak?
1. Ada rekayasa global dalam "insiden" kecil yang dibesar-besarkan ini. Kaum muslimin harus percaya bahwa asing, khususnya Amerika tengah melancarkan aksinya untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dulu, untuk mengesankan bahwa Indonesia 'sarang' teroris, direkayasalah dengan maraknya pemboman sambil menuduh nama-nama yang 'bernuansa' Islam sebagai pelakunya. Noordin M Top sampai sekarang katanya masih diuber meski sudah mulai dilupakan. Saya berkeyakinan sangat kuat, ya paling nggak 90 persen lah bahwa ia adalah intelijen CIA. Ini dugaan kuat saya saja. Kalo meleset dikit harap dimaklumi karena saya bukan yang menyuruh dia atau dirinya. Hehehe... Sebab, anehnya tuh Si "M Top" ini nggak pernah bisa ketangkep, gitu lho. Yang ditangkep adalah orang-orang lain macam Imam Samudra, Amrozi dkk. (yang besar kemungkinan mereka adalah korban atau dikorbankan begitu saja—sesuai skenario teknik "pancing jaring"). Ini yang pinter M Top atau intelijennya yang payah? Atau sebenarnya para intelijen atas 'titah' dari intelijen asing sedang membuat film ala Hollywood dengan bintang film Noordin M Top untuk nyebarin opini sesat tentang Islam? Allahu'alam.
Dalam "Insiden Monas", saya sendiri menganalisis dan menduga kuat ada tekanan dari asing untuk melucuti kekuatan Islam, dan mengamankan para pejuang liberalisme, sekularisme, pluralisme, kapitalisme dan demokrasi. Ahmadiyah itu sudah jelas sesat, mengapa masih ada pihak-pihak yang membelanya? Kembali ke poin 1, bahwa kebenaran pasti akan berhadapan dengan kesalahan.
1. Kaum muslimin wajib menyatukan visi dan misi perjuangan, yakni mengkampanyekan, mendakwahkan, dan memperjuangkan institusi Islam, yakni Khilafah Islamiyah. Secara ringkas, Imam Taqiyyuddin an-Nabhani mendefinisikan Daulah Khilafah Islamiyah sebagai kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum Syariat Islam dan mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia (Imam Taqiyyuddin an-Nabhani, Nizhamul Hukmi fil Islam, hlm. 17).
Islam adalah agama sempurna yang tidak hanya mengatur aspek ibadah ritual, namun juga mengatur aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara seperti aspek politik, ekonomi, pendidikan, militer, dan budaya. Karenanya wajar bila Islam mewajibkan eksistensi negara untuk merealisasikan semua aturan tersebut, sebab tanpa negara mustahil segala aturan bernegara dan bermasyarakat itu dapat terwujud (Imam al-Mawardi, al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm. 5; Abu Ya'la, al-Ahkâm as-Sulthâniyyah, hlm. 19.)
Dengan demikian, masalah Ahmadiyah, masalah JIL, AKKBB, atau gerakan penyeru kekufuran lainnya insya Allah akan mudah ditangani oleh Daulah Khilafah Islamiyyah. Demokrasi? Hmm... lihat saja sekarang, demokrasi tak akan mampu membereskan masalah ini, bahkan makin menyuburkan problem baru bagi kaum muslimin. Mulai sekarang, campakkan kesetiaan dan kepercayaan kepada hukum selain Islam, karena dengan cara begitu "ikatan" kita dengan sistem ini akan putus dan musnah sehingga kita terbebas dari belenggu kekufuran. Maka, segera putuskan kepercayaan kepada kapitalisme, sekularisme, demokrasi dan sejenisnya. Lalu, ikatkan pikiran dan perasaan kita hanya kepada aturan Islam. Bukan yang lain. Kaum muslimin harus segera sadar jika hidup ingin berubah. Mari siapkan tenaga, pikiran, dan waktu kita untuk menegakkan kembali Khilafah Islamiyah. Indonesia tak akan bisa berdiri kokoh hanya dengan menerapkan syariat Islam, tapi tanpa diwujudkan dalam bentuk pemerintahan di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Sebab, perjuangan dakwah kita haruslah: liistinafil hayatil islamiyyah, bi iqomatil khilafa [melanjutkan kehidupan Islam, dengan mendirikan Khilafah]. Jadi, seluruh gerakan Islam sewajibnya mengobarkan seruan penegakkan Khilafah Islamiyah ini, jika ingin lepas dari penderitaan yang tak kunjung berakhir di bawah naungan demokrasi. Harus dilakukan inqilabiyyah (revolusi) bukan islahiyah (perbaikan). Maka, segera ganti sistem kapitalisme-demokrasi dengan Islam sebagai ideologi negara yang diterapkan aturannya di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah.
Ini saja, sekadar komentar dan analisis sederhana dari saya yang menilai bahwa Islam harus diperjuangkan. Kaum muslimin harus mencintai Islam dengan sepenuh hati. Tinggalkan hawa nafsu kita yang tetap ingin membela demokrasi, sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Membela kekufuran hanya mendapat kecaman dari Allah Swt.
Firman Allah Swt. (yang artinya): "Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (QS al-Maaidah [5]: 50)
Dalam ayat lain, Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): "Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta" (QS Thahaa [20]: 124)
Sementara mereka yang membela Islam, akan mendapatkan pujian tertinggi dari Allah Swt. Allah azza wa jalla berfirman (yang artinya): "Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri (kaum muslimin)?" (QS Fushshilat [41]: 33)
Belajar dari kasus "Insiden Monas" ini, jika suatu saat masih bisa dicari jalan dialog dan argumentasi ilmiah dalam melawan kekufuran tersebut, mari kita sama-sama lakukan. Tapi, jangan kaget jika para pejuang kekufuran lebih menginginkan cara-cara yang mengundang "anarkisme", bukan tak mungkin jika kaum muslimin akan membuat kejadian serupa terulang di kemudian hari. Bukan tak mungkin. Saya tidak mendukung dan menganjurkan kekerasan, tapi kadang "arogansi" dari para pembela kekufuran perlu juga sekali-kali diberi 'kejutan'.
Salam perjuangan dan kemenangan ideologi Islam,
O. Solihin
nb pengambil artikel: "Pemerintah yg tidak tegas jg bisa menjadi penyebab insiden ini" Selanjutnya......
Diposting oleh
azzahracomunity
di
19.34
0
komentar







